MENENUN OIKUMENE DI DESA OELASIN

BERAWAL dari persekutuan “padang” untuk meminta dan syukur atas hujan, tiga denominasi gereja di wilayah administratif Desa Oelasin, khususnya Dusun Batunggois dan Dusun Oelasin, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, yakni Jemaat GMIT Thie Timur (Mata Jemaat Pniel Batunggois), Jemaat GPDI Ebenhaezer Okeneka dan Jemaat GKII Mongga mulai merintis persekutuan oikumene di wilayah pelayanan ketiga jemaat tersebut. Perspektif pelayanan mulai meluas dengan suatu kesadaran iman, panggilan untuk menyatakan syukur bukan hanya karena kebutuhan akan hujan, tapi dalam se-antero kehidupan manusia.

            Pertemuan ibadah yang mulai rutin dilakukan sejak 6 Maret 2017 ini bak gayung bersambut di ketiga jemaat lintas denominasi yang berkarya dalam konteks masyarakat petani ini. Partisipasi jemaat dalam pertemuan ibadah oikumene ini, sekalipun masih kurang, tetapi kian meningkat, volume pertemuan ibadah pun disepakati menjadi dua kali dalam sepekan, sebelumnya sekali dalam 1 minggu. Gembala Sidang GPdI Ebenhaezer Okeneka Pdt. Mesakh Fanggidaemengungkapkan dalam perenungannya pada Ibadah Padang Oikumene di Batunggois, Selasa, 18 April 2017, “ungkapan syukur atas karya Allah mesti dilakukan dalam seluruh kehidupan manusia, bukan saja pada waktu memohon hujan dari Tuhan. Dalam doa dan penyembahan, hendaknya tiap insan berkomitmen dalam seluruh aspek hidupnya untuk memuliakan Tuhan. Pokok-pokok pergumulan seperti kenakalan remaja, minuman keras, dan moralitas yang kian merosot harus dijadikan pokok pergumulan bersama seluruh jemaat, jelang hari Kristus yang kian mendekat.”

            Dalam kesempatan yang sama, KMJ GMIT Thie Timur, Pdt. Frans Dillak menegaskan tentang pentingnya membangun relasi oikumene antar denominasi gereja sebagai bagian dari tanggung jawab pengikut Kristus yang secara organisasi tercatat pada jemaat-jemaat yang berbeda, namun memiliki tanggung jawab imani yang sama. “Tembok-tembok pemisah antardenominasi yang tebal harus mulai diruntuhkan. Benar bahwa secara organisasi, kita berbeda dan itulah kenyataannya. Namun, perbedaan organisasi gereja ini jangan membuat kita saling terpisah dan mengasingkan diri satu dengan yang lain. Ibadah padang ini sebagai bagian dari penyembahan kepada Tuhan, tetapi juga merupakan cara untuk saling mengerti dalam hidup secara oikumenis. Kemajuan suatu daerah hanya akan terwujud apabila ada kerjasama di antara warganya. Gereja menjadi komunitas yang menunjukkan contoh tentang hal tersebut. Mari kita mulai dari luar gedung kebaktian masing-masing,” ujarnya.

            Kebaktian padang oikumene yang berlanjut pada Jumat, 21 April 2017 di Oenua, Okeneka ini dihadiri oleh sebagian anggota jemaat dari ketiga denominasi gereja yang ada di Desa Oelasin. Suasana yang syahdu di tengah-tengah alam dan dinaungi dengan dedaunan pohon lontar, jemaat menyembah Tuhan dalam sukacita perayaan Paskah yang masih kental dirasakan. Pnt. Fince Manu-Nalle, anggota majelis jemaat GMIT Thie Timur, dalam kesempatan sebelumnya mengungkapkan, jangan merasa berkecil hati jika persekutuan ini dihadiri oleh hanya sebagian jemaat. “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dan Tuhan disebutkan, di situlah Tuhan hadir dan memberkati kita. Persekutuan ini diwartakan di gereja-gereja, siapa yang datang, ya mereka yang menjawab undangan Tuhan tersebut,” ujarnya sembari mengutip ayat dalam Kitab Suci Alkitab. Dalam pengamatan, jemaat yang hadir, selain berasal dari jemaat-jemaat antardenominasi, namun juga datang dari berbagai kategori usia, dari usia PAR hingga lansia. Semuanya larut dalam syahdunya pertemuan ibadah oikumene yang dilangsungkan di alam terbuka tersebut.

Ada satu hal yang unik dalam kebaktian adang oikumene ini, setiap panggilan beribadah tidak dilakukan dengan membunyikan lonceng gereja, tetapi oleh Pnt. Daniel Adu, hamba Tuhan dari jemaat GKII Mongga, ia meniup to’ik, sangkakala yang terbuat dari keong laut, suatu tradisi yang hampir ditinggalkan oleh jemaat-jemaat di Desa Oelasin, Rote Barat Daya. Ketika to’ik dibunyikan, jemaat-jemaat mulai berdatangan. Dari penjuru-penjuru sawah, kebun dan ladang, jemaat-jemaat menyisihkan waktu untuk ada dalam persekutuan padang oikumene tersebut. Tidak perlu berbaju bersih, tidak harus membawa kolekte, tanpa duduk beralaskan kursi pun, jemaat mempersiapkan hati untuk ada dalam persekutuan penyembahan. Syukur kepada Tuhan dinyatakan oleh jemaat di tempat di mana ia berkarya untuk kecukupan hidupnya, konteks di mana jemaat hidup dan berkarya. ** (FAD)

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>